Apakah Anda termasuk salah satu orang yang was-was kena imbas PHK massal tahun 2009? Cermatilah tulisan dari KOMPAS, yang menceritakan seorang perempuan gigih bernama Fatmah Bahalwan.
Tangan Fatmah Bahalwan dengan cekatan memainkan alat penghias kue pengantin. Nantinya, kue itu akan disusun tiga tingkat. Terkesan megah. Sembari bekerja, perempuan yang kini makin aktif berkecimpung di industri rumahan penganan dan katering itu menerima kedatangan kompas.com di kediamannya, kawasan Matraman Dalam, Jakarta Pusat, beberapa waktu silam. "Ditunggu sama yang pesan soalnya," begitu kata Mbak Fatmah, sapaan akrabnya.
Krisis moneter alias krismon 1998 adalah langkah pertama keberangkatan Fatmah memperbesar pundi keuangan keluarga. "Awalnya aku cuma ngumpulin uang seribu-seribu. Di kantor, aku jualan kue sepuluh biji setiap hari," kenang mantan sekretaris eksekutif di Bank Muamalat ini.
Kue memang membuat Fatmah makin dikenal di kantornya sejak waktu itu. Jadilah, dirinya kerap dipercaya manajemen kantor untuk menyiapkan acara coffee break internal. Tentu saja, selain minuman, nyamikan alias penganan kecil macam kue-kue seperti lemper, sus, risoles, dan sebagainya adalah menu wajib. Peluang di depan mata ini disambarnya untuk berinvestasi kecil-kecilan. "Aku mulai punya teko, cangkir, dan sendok kecil. Investasi minjem nggak sampai dua juta deh," tuturnya.
Nah, "armada" yang komplet justru menjadi pendukung Fatmah untuk mengembangkan usaha. Ditambah dengan makin seringnya acara coffee break, jumlah kue yang harus dibuatnya makin berlipat hingga 250 buah. "Saya sadar, kebutuhan kue serta coffee break selalu ada di kantor- kantor," imbuh ibu tiga anak ini.
Di tahun sama, keuangan keluarga terbantu dengan meningkatnya omzet pembuatan kue. Sembari menghitung, Fatmah menjelaskan, dari bikin kue, sedikitnya tambahan Rp750 ribu sebulan diraih. "Waktu itu, gaji saya masih dua jutaan," katanya.
Waktu bergulir cepat. Tak terasa, lima tahun sudah lewat dari krisis yang mengempaskan rupiah dari kisaran Rp2.500 ke Rp10.000 terhadap sedollar Uwak Sam itu. Selama masa itu, Fatmah malah makin getol membuat segala macam makanan. "Saya bikin tumpeng, kue ulang tahun, dan segala macam. Mulai deh, saya telat datang ke kantor. Izin nggak masuk. Jadi nggak enak lama-lama," kata penyuka segala macam kegiatan menghias kue ini.
Ternyata, di rumah, Fatmah yang tak bisa diam menyelami segala hal tentang boga memang mulai kebanjiran order. Salah satu pemicu adalah, kebiasaannya masuk ke komunitas-komunitas di dunia maya. "Tapi, waktu itu belum punya kartu nama. Saya pakai jaringan teman-teman sekretaris," imbuhnya.
Konsekuensi dari seluruh kegiatannya, lalu, Fatmah jadi super sibuk, di rumah dan di kantor. Terlebih pada bulan puasa, Fatmah mengaku tenaganya betul-betul terkuras demi meladeni beragam pesanan. "Saya harus mulai memilih antara terus menjalankan usaha atau bekerja di kantor," aku Fatmah yang butuh setahun untuk menimbang-nimbang demi keputusan terbaik.
Begitu keputusan berhenti diambil pada 2004, perempuan kelahiran 15 Januari 1964 ini kehilangan rutinitas kerja kantoran. "Tiga bulan aku merasa seperti itu," katanya.
Namun, bagi istri Wisnu Ali Martono ini, di masa seperti itu membina jaringan malah merupakan kewajiban menjadi-jadi. Setiap pagi, Fatmah rajin menghubungi dan menyapa para pelanggan. Sekaligus, memperjelas identitas. "Saya juga memberi tahu mereka kalau saya sudah tidak ngantor lagi. Saya bekerja dari rumah,"ujarnya.
Sementara, soal komunitas Natural Cooking Club (NCC) yang didirikannya pada 2005, Fatmah punya cerita sendiri. "NCC saya dirikan untuk mendapatkan pasar. Khususnya, kursus masak," katanya.
Maka dari itulah, seabrek kegiatan pun tertuang di NCC mulai dari info kursus sampai dengan kegiatan silaturahim kopi darat hingga ke saling tukar kekayaan menu. Membernya kini lebih dari 5.000. "Nah, stabilitas kursus didapat dari milis NCC," tutur Fatmah.
Ia menambahkan proses saling menguntungkan yang terjadi adalah pada satu sisi anggota milis membutuhkan kursus, sementara, pada sisi lain, kursus adalah sarana untuk mencari uang. "Itu matching. Mereka senang belajar di sini dan kami seneng dapat uang,"katanya.
Hingga tahun ini, dalam hitungan Fatmah, sedikitnya lima orang rekannya sesama anggota milis mulai kepincut atawa jatuh hati mengikuti pilihan bekerja dari rumah. Apalagi, belajar memasak dan membuat kue tidak mungkin bisa sukses kalau seseorang tidak mengerjakan sendiri. "Kuncinya itu," terang Fatmah.
Maka, Peni Reswati, Vita, Riana, Ika, dan Melani pada akhirnya memutuskan berhenti bekerja untuk kemudian menjalani status baru sebagai pengusaha makanan. Usaha pun dijalankan dari rumah, bukan dari mana-mana. "Pengalaman saya ditiru oleh mereka. Itu positif sekali," katanya sambil mengatakan bila dalam satu hari, sedikitnya, Rp1 juta tunai pun sudah bisa berada dalam genggaman. (Josephus Primus - Kompas)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)




Post a Comment